Ketika awal DM I di Aceh Mei 2003 dulu, banyak wartawan yg antusias untuk meliput pertempuran di medan terdepan. Ada satu kisah yg dimana cerita ini gw baca dalam catatan lepas di harian (aneh??) Poskota yg biasanya ada di sudut kiri bawah hal pertama.
Suatu hari wartawan sedang menuju area pertempuran (sayang gw dah lupa di wil mana) yg dikawal ma 13 orang aparat (10 orang Kopassus, 3 orang Brimob) kemudian ketika ditengah jalan hutan belantara rombongan kena ambush gerilyawan GAM berjumlah +- 100 orang bersenjata campuran, wartawan dah panik akibat baru mengalami kejadian seperti ini (walaupun sebelumnya TNI dah melatih para wartawan yg akan meliput di Aceh sebelumnya) karena kali ini taruhannya nyawa. Tetapi yg terjadi para pengawal dari kopassus dan brimob tenang2 aja, setelah memberi perintah kpada brimob untuk menjaga para wartawan maka 10 orang anggota kopassus langsung menyerbu para anggota GAM dgn jalan mendekatinya langsung.
Ketika awal melihat angota TNI mendekati mereka, Gam berpikir bahwa ini sasaran empuk tetapi setelah melihat mereka perlahan tapi pasti mendekati mereka dan menghabisi satu demi satu teman2 mereka lama2 keder juga untuk menneruskan pertempuran. Klau menurut pengamatan wartawan, anggota GAM itu menembak seperti menghamburkan peluru (atau malah gak bisa nembak, yg penting peluru keluar) sdangkan TNI menembak bilamana sasaran terlihat oleh mereka saja, setelah bertempur selama sekitar 1 jam para GAM melarikan diri ke dalam hutan dan ditemukan korban skitar 12 orang tewas dan ceceran darah di dedaunan yg menandakan banyak yg terluka dilarikan teman2nya.
Bisa dibayangkan kwalitas passus yg mampu menghalau 100 musuh hanya dgn 10 orang aja.
Ini catatan dari wartawan yg meliput perang di Aceh, untuk jelasnya gw dah lupa karena berita awal Juni tahun 2003, gw brusaha cari2 lagi tp blum dapat juga. Mungkin ada yg prnah dengar cerita ini sebelumnya.
Selengkapnya...
Rabu, 08 April 2009
cerita kopassus V
1th SURVIVOR...
Anggota kopasus yang pangkatnya udah tergolong elite (mungkin major keatas kali ya..) diberikan sebuah latihan yang sangat khusus. Saudara temen gwa ini (mulai sekarang sebut saja Mr.X), tergabung kedalam pelatihan khusus ini. Seperti apa pelatihannya? baca terus...
Pelatihan khusus ini, di anggotakan hanya segelintir anggota kopasus yang terbaik dari yang terbaik. Saat itu kira kira ada 10 orang yang tergabung di pelatihan ini. Dalam pelatihan ini mereka dikirim ke hutan belantara di Borneo (baca: Kalimantan) dengan bermodalkan sebuah granat asap (smoke bomb), baju yang mereka pakai dan pisau komado.
Tanpa pemberitahuan atau persiapan baik materi atau mental, mereka di "buang" begitu saja di tengah hutan yang lokasinya saling terpisah satu dari antara lainnya (ke-10 orang ini). Lalu mereka akan "jemput" kembali tepat 1 tahun dari tanggal mereka "dibuang" ini.
Pelatihan ini lebih mirip dengan ajang survivor to the best... dimana mereka harus bertahan hidup di tengah hutan belantara dengan apa yang mereka miliki. Tidak tau keberadaan mereka, tidak memiliki apa-pun juga.
1 tahun setelah tanggal pembuangan, helikopter penjemput melakukan manuver untuk mengitari hutan hutan dan mencari adanya asap berwarna. Dalam pelatihan ini, ada beberapa dari mereka yang tidak diketahui lagi keberadaan dan status-nya (MIA)....
Selengkapnya...
cerita kopassus IV
Ini cerita tentang the first British SAS soldiers killed by a South East Asian soldier (yg tentu saja diwakili oleh prajurit dari RPKAD/Kopassus )
Setting ceritanya adalah bulan April tahun 1965, ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malingsial. Lokasi pertempuran di desa Mapu, Long Bawan, perbatasan Kalimantan Barat dan Sabah.
Saat itu batalion 2 RPKAD (sekarang Grup 2 Kopassus) baru saja terbentuk. batalion baru ini segera dikirim untuk misi khusus ke kalimantan barat. Mereka mendarat di Pontianak bulan Februari 1965, dan segera setelah itu mereka berjalan kaki menuju posnya di Balai Karangan yang jaraknya puluhan kilometer dari lapangan terbang.
Pos Balai Karangan merupakan pos terdepan TNI yang sebelum kedatangan RPKAD dijaga oleh infanteri dari batalion asal Jatim. Sekitar 1 km di depan pos Balai Karangan adalah pos terdepan tentara Inggris di desa Mapu yang dijaga oleh satu kompi British paratrooper dan beberapa orang SAS. Menyerang pos inilah yang menjadi misi khusus batalion RPKAD. Pos Mapu tersebut sering digunakan sebagai transit bagi personel SAS yang akan menyusup ke wilayah Indonesia. TNI ingin hal ini dihentikan dengan langsung melenyapkan pos tersebut.
Pos Inggris di Mapu tersebut terletak di puncak sebuah bukit kecil yang dikelilingi lembah, sehingga pos ini sangat mudah diamati dari jarak jauh. Selain itu, pos tersebut juga cukup jauh dari pasukan induknya yang kira-kira terpisah sejauh 32 km.
Pasukan RPKAD yang baru datang segera mempersiapkan setiap detail untuk melakukan penyerangan. Prajurit RPKAD yang terpilih kemudian ditugaskan untuk melakukan misi reconnaisance untuk memastikan kondisi medan secara lebih jelas. Mereka juga memetakan pos tersebut dengan detail sehingga bisa menjadi panduan bagi penyusunan strategi penyerangan, termasuk detail jalur keluar masuknya.
Tugas recon ini sangat berbahaya, mengingat SAS juga secara rutin melakukan pengamatan ke posisi-posisi TNI. Jika kedua recon tersebut berpapasan tanpa sengaja, bisa jadi akan terjadi kotak tembak yang akan membuyarkan rencana penyerangan. Oleh karena itu, recon RPKAD sangat berhati-hati dalam menjalankan misinya. Bahkan mereka menggunakan seragam milik prajurit zeni TNI AD untuk mengelabui musuh apabila terjadi kemungkinan mereka tertangkap atau tertembak dalam misi recon tersebut.
Setelah sebulan mempersiapkan penyerangan, pada 25 April 1965 gladi bersih dilakukan. Dari tiga kompi RPKAD yang ada di pos Balai Karangan. Komandan batalion, Mayor Sri Tamigen, akhirnya memutuskan hanya kompi B (Ben Hur) yang akan melakukan penyerangan. Sementara 2 kompi lainnya tetap berada di wilayah Indonesia untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Dalam penyerangan ini, kompi B diharuskan membawa persenjataan lengkap. Mulai dari senapan serbu AK-47, senapan mesin Bren, peluncur roket buatan Yugoslavia, dan Bangalore torpedoes, mainan terbaru RPKAD waktu itu, yang biasanya digunakan untuk menyingkirkan kawat berduri atau ranjau.
Selesai mengatur perbekalan, Ben Hur mulai bergerak melintasi perbatasan selepas Maghrib. Karena sangat berhati-hati, mereka baru sampai di desa Mapu pada pukul 0200 dini hari. Setelah itu mereka segera mengatur posisi seperti strategi yang telah disusun dan dilatih sebelumnya.
Pos Mapu berbentuk lingkaran yang dibagi ke dalam empat bagian yang masing-masing terdapat sarang senapan mesin. Perimeter luar dilindungi oleh kawat berduri, punji, dan ranjau claymore. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah dengan merangsek masuk kedalam perimeter tersebut dan bertarung jarak dekat. Menghujani pos ini dengan peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena didalam pos tersedia lubang-ubang perlindungan yang sangat kuat.
Beruntung, malam itu hujan turun dengan deras seolah alam merestui penyerangan tersebut, karena bunyi hujan menyamarkan langkah kaki dan gerakan puluhan prajurit komando RPKAD yang mengatur posisi di sekitar pos tersebut.
Setelah dibagi ke dalam tiga kelompok, prajurit komando RPKAD berpencar ke tiga arah yang telah ditetapkan. Peleton pertama akan menjadi pembuka serangan sekaligus penarik perhatian. Kedua peleton lainnya akan bergerak dari samping/rusuk dan akan menjebol perimeter dengan bagalore torpedoes agar para prajurit RPKAD bisa masuk ke dalam dan melakukan close combat.
Pada jam 0430 saat yang dinanti-nanti tiba, peleton tengah membuka serangan dengan menembakkan senapan mesin Bren ke posisi pertahanan musuh. Segera setelah itu, dua peleton lainnya meledakkan bangalore torpedoes mereka dan terbukalah perimeter di kedua rusuk pertahanan pos tersebut. Puluhan prajurit RPKAD dengan gagah berani masuk menerjang ke dalam pos untuk mencari musuh.
Prajurit Inggris berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena tidak siap dan sangat terkejut karena mereka tidak menduga akan diserang pada jarak dekat. Apalagi saat itu sebagian rekan mereka sedang keluar dari pos untuk berpatroli. Yang tersisa adalah 34 prajurit Inggris. Hal ini memang telah dipelajari recon RPKAD, bahwa ada hari-hari tertentu dimana 2/3 kekuatan di pos tersebut keluar untuk melakukan patroli atau misi lainnya. Dan hari itulah yang dipilih untuk hari penyerangan.
Dengan susah payah, akhirnya ke-34 orang tersebut berhasil menyusun pertahanan. Beberapa prajurit RPKAD yang sudah masuk ke pos harus melakukan pertempuran jarak dekat yang menegangkan. Dua prajurit RPKAD terkena tembakan dan gugur. Namun rekan mereka terus merangsek masuk dan berhasil menewaskan beberapa tentara Inggris dan melukai sebagian besar lainnya. Tentara Inggris yang tersisa hanya bisa bertahan sampai peluru terakhir mereka habis karena mereka telah terkepung.
Diantara yang terbunuh dalam pertempuran jarak dekat yang brutal tersebut adalah seorang anggota SAS. Ini adalah korban SAS pertama yang tewas ditangan tentara dari ASEAN. Namun sayangnya Inggris membantah hal ini. Bahkan dalam buku karangan Peter Harclerode berjudul "Para! Fifty Years of the Parachute Regiment halaman 261 pemerintah Inggris malah mengklaim mereka berhasil menewaskan 300 prajurit RPKAD dalam pertempuran brutal tersebut. Lucunya klaim pemerintah Inggris ini kemudian dibantah sendiri oleh penulis buku tersebut di halaman 265, ia menyebutkan bahwa casualties RPKAD hanya 2 orang. Secara logis memang angka 300 tidak mungkin karena pasukan yang menyerang hanya satu kompi. Pemerintah Inggris melakukan hal tersebut untuk menutupi rasa malu mereka karena dipecundangi tentara dari dunia ketiga, bahkan salah satu prajurit dari kesatuan terbaik mereka ikut terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Pertempuran itu sendiri berakhir saat matahari mulai meninggi. Prajurit RPKAD yang sudah menguasai sepenuhnya pos Mapu segera menyingkir karena mereka mengetahui pasukan Inggris yang berpatroli sudah kembali beserta bala bantuan Inggris yang diturunkan dari helikopter. Mereka tidak sempat mengambil tawanan karena dikhawatirkan akan menghambat gerak laju mereka.
Sekembali di pos Balai Karangan, kompi Ben Hur disambut dengan suka cita oleh rekan-rekannya. Para prajurit yang terlibat dalam pertempuran mendapatkan promosi kenaikan pangkat luar biasa. Mereka juga diberi hadiah pemotongan masa tugas dan diberi kehormatan berbaris di depan Presiden Soekarno pada upacara peringatan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1965.
Itulah cerita heroik batalion 2 RPKAD, cikal bakal Grup 2 Kopassus.
==========================================
Selengkapnya...
cerita kopassus III
ketika jaman megawati, indonesia mengirimkan pasukan khususnya ke daerah konflik, tp aku agak2 lupa di negara filipina or thailand.. yg jelas untuk membantu mediasi antara pasukan pemerintah dan separatis dalam melepaskan tawanan, seperti biasa seperti GAM diindonesia setiap gerakan asti ada pemimpin or jendralnya, ketika itu markasnyta ada di tengah2 hutan dan dilindungi oleh 7 lapisan penjagaan, menurut salah seorang anggota.. untuk menuju rumah utama jendral harus melewati 7 lapis penjagaan yg berbentuk lingkaran, saat itu anggota pasukan khusus dari indonesia yg membawa seorang penterjemah berhasil mengetuk rumah jendral tersebut tanpa ketahuan sama sekali dari anak buahnya, jendral tersebut kaget bukan kepalang.. setelah berunding maka tawanan berhasik dibebaskan dan tanpa baku tembak sama sekali. oh iya jumlah anggota yg dibawa saat itu kurang lebih 20 orang dan semuanya berhasil masuk sampai depan rumah jendral tersebut tanpa ketahuan, hmm... excelent job by indonesian army!!
oh iya aku pernah baca pengakuan dari salah seorang anak buah prabowo yg mantan mantunya soeharto itu, ketika prabowo memimpin anak buahnya misi di tim-tim ada kejadian aneh, setelah melakukan perjalanan di hutan2 akhirnya mereka bertemu dgn gerilyawan setempat dan akhirnya terjadi baku tembak tp krn kalah dalam jumlah dan musuh lebih menguasai medan, maka terkepunglah pasukan prabowo.. disaat genting seluruh anak buahnya dusuruh pasrah dan tidak boleh bersuara, disaat itulah prabowo menggunakan ilmu yg dimilikinya... setelah membaca doa keluar kabut yg sangat tebal dihutan itu, menurut pengakuannya perlahan datang kabut yg tebal dan anehnya tanpa boleh bersuara sedikitpun pasukan berjalan kedepan tanpa diketahui oleh musuh, pdhl jarak ga sampai 10 meter.. musuh seperti kebingungan sesaat!!
Selengkapnya...
cerita kopassus II
Kejadiannya sekitar pertengahan tahun 1980-an. Saat itu pangabnya LB Moerdani kalau tidak salah. Dia udah lama nerima laporan intel kalau OPM sering mendapat pasokan senjata yg diselundupkan dari PNG. Ketika dikonfirmasi ke otoritas PNG, mereka tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Akhirnya Benny memutuskan untuk mengambil langkah sendiri untuk mengidentifikasi siapa/negara mana yang bermain. Caranya? ya langsung masuk ke wilayah PNG tanpa permisi
Yang ketiban untuk melaksanakan tugas ini adalah Den 81 yang saat itu dipimpin oleh prabowo. Sasaran mereka adalah suatu lokasi di wilayah PNG, sekitar 50 km dari tapal batas perbatasan dengan Indonesia. Pasukan ini berangkat dari Jayapura naik heli, kemudian sampai di suatu tempat dan melanjutkan misi dengan perahu karet agar tidak terdeteksi otoritas PNG.
Perjalanan dengan perau karet menuju lokasi sasaran terhadang oleh besarnya ombak (dini hari) di perairan sebelah utara PNG. Seorang anggota Kopassus sampai terluka cukup parah untuk mempertahankan perahu dari terjangan ombak. Akhirnya mereka berhasil sampai di titik pendaratan, dan langsung bergerak menuju lokasi sasaran.
Setiba di lokasi, unit kopassus ini segera mencari tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi penimbunan pasokan senjata. Namun hasilnya nihil. Tapi mereka tidak menyerah. Setelah menunggu selama dua hari dua malam, akhirnya mangsa mereka muncul. Dua orang kulit putih muncul dari balik rimbunnya hutan PNG, melintasi posisi pasukan kopassus yag sama sekali tidak mereka rasakan keberadaannya.
Segera kedua orang ini diamankan. Setelah diperiksa dan diinterogasi, keduanya diketahui sebagai agen Australia. Mereka kemudian menunjukkan lokasi tempat helikopter Australia mengedrop pasokan senajata dan amunisi untuk OPM. Sayang, karena persediaan menipis, Kopassus tidak punya waktu untuk menunggu sampai terjadinya pengedropan tersebut.
Kedua bule itu dibawa kembali ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian diekstradisi ke Australia. Sejak saat itu, Australia tidak berani bertindak macam-macam lagi (mungkin karena malu ketahuan). Mereka juga baru sadar kalau kopassus mampu melakukan operasi jauh di dalam wilayah musuh. Bahkan tidak menutup kemungkinan kopassus bisa beroperasi di pedalaman Australia tanpa terdeteksi. Inilah yang kemudian membuat nama Kopassus sangat disegani oleh tentara Aussie.
Selengkapnya...
cerita kopassus!
Anggota Kopassus yg gugur dari tahun 1974 - 1999 sebanyak 124 orang. terbanyak waktu serangan awal Desember 1975 sampai 1980. Karena perangnya bener bener perang frontal tawuran. Skill komando jadi gak berfungsi. Soalnya Mortir sama meriam sama senapan mesin lebih banyak bermain di mandala tsb.
Korban pangkat tertinggi berpangkat Mayor. Gugur waktu perebutan Dili kena tembak sniper Fretilin mantan Tropas waktu menaikkan bendera merah putih dekat kantor Gubernur.
Tahun tahun sesudahnya korban di pihak Kopassus sangat sedikit. Sekali disergap fretilin mungkin hanya 1 atau 2 orang anggota Kopassus saja yg jadi korban.
Tapi kalo korban di Pihak Fretilin yg di libas Kopassus nggak kehitung. ratusan personil terlatih Fretilin bahkan mungkin mencapai angka ribu sudah jadi mangsa nya Kopassus. ( jangan remehkan fretilin. Fretilin justru lebih jago perang gerilya dibandingkan TNI reguler krn mereka terlatih alam dan timtim itu rumah mereka sendiri, serta mereka mantan tropas Portugal yg lebih banyak mendapat latihan menembak dibandingkan TNI. Rata rata Tropas adalah penembak mahir ) Cerita cerita teman yg pernah tugas di sana membuktikan kehebatan Kopassus. Mereka hidup berbulan bulan di hutan bergerilya mencari fretilin dan sasaran strategis.
Selengkapnya...

