Senin, 23 Maret 2009

M4 dan HK 416 Pengganti M16

Dewasa ini dunia militer mengenal dua senapan yang paling populer, yaitu AK-47 dan M16. Senapan yang pertama buatan Rusia dan pernah menjadi senapan standar di negara-negara yang tergabung dalam Pakta Warsawa. Senapan dengan kaliber 7,62 mm itu merupakan salah satu senapan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia se-menjak awal tahun 1950-an. Boleh dikatakan senjata hasil rancangan Mikhail Timofeyevich Kalashnikov sudah menjadi suatu legenda.

Di sisi lain dikenal M16 buatan Amerika Serikat yang juga dipakai secara meluas di kalangan ketentaraan di seluruh dunia. Senjata pasukan infanteri ini amat populer di negara-negara yang berkiblat ke Barat atau setidak-tidaknya di negara yang memperoleh bantuan persenjataan ringan dari Amerika Serikat. Jenis senjata kaliber 5,56 mm ini mendapatkan nama harumnya di medan perang Vietnam pada tahun 1960-an. Semenjak itu senapan tersebut dijadikan semacam senapan standar di jajaran anggota NATO. Di tengah per-tempuran sengit Vietnam kedua senapan tersebut mengadu keunggulan. Sudah barang tentu kedua jenis senjata yang mematikan itu memiliki ke-unggulan dan sekaligus kekurangan.

Selama beberapa dasawarsa sejak ber-akhirnya Perang Vietnam negara adidaya Amerika Serikat tidak tersangkut dalam perang skala besar. Negara Paman Sam itu baru terlibat lagi dalam pertempuran besar tatkala menyerang Irak dan Afghanistan. Dan kembali pula senapan MI 6 beraksi di sana. Senjata andalan pasukan in-fanteri AS tersebut digunakan dalam medan pertempuran yang keadaannya berbeda dengan medan perang sebelumnya.

Kalau di Vietnam senapan itu dipakai di kawas-an hutan hujan tropis, lembab, serta berlumpur, maka di Irak serta di Afghanistan jenis senjata itu digunakan di medan yang kering kerontang, panas, dan berdebu halus semburan padang pasir.

Dari kedua medan perang itu, pihak pengambil keputusan militer AS sering menerima laporan tentang M16. Para tentara di lapangan acapkali melaporkan ketidakberesan senapan andalan mereka tersebut. Hal yang paling kritis yang acap-kali dilaporkan adalah tingkat kemacetan senjata itu. Dalam keadaan darurat M16 tentu akan di-tembakkan dengan frekuensi tinggi dan justru dalam situasi demikian senapan itu sering macet. Hal tersebut dapat menimbulkan akibat fatal bagi tentara yang sedang tersudut di medan pertem-puran, Setiap detik yang digunakan untuk mem-perbaiki senjata yang macet dapat berarti ber-banding lurus dengan kemungkinan kematian pemakai senapan tersebut.

Oleh pihak Pentagon, penyebab kemacetan ditimpakan ke pundak tentara yang berada di la-pangan dengan alasan kurang pemeliharaan atau cara perawatan yang tidak sebagaimana mes-tinya. Sebaliknya, pihak personel lapangan me-nyebutkan perawatan telah dilakukan secara pro-fesional, namun M16 kadang-kalang masih saja mengalami kemacetan.

Dari hasil analisis bertahun-tahun, para ahli senjata AS menemukan bahwa faktor utama pe-nyebab kemacetan pada M 16 adalah sisa karbon yang berada di dalam senapan.

Walaupun M16 telah dirawat sesuai dengan buku petunjuk, kemungkinan kemacetan itu tetap ada jika senjata tersebut ditembakkan dengan fre-kuensi tinggi.

Setelah melakukan penelitian selama ber-tahun-tahun. Pentagon memutuskan untuk meng-ganti M16 dengan jenis senjata yang lebih cang-gih. Calon pengganti yang diungguIkan adalah Colt M4 Caibine. Senjata baru yang juga berkaliber 5,56 mm ini lebih kompak. Sekilas bentuknya tidak berbeda jauh dengan M16. Beratnya pun hampir sama. Beberapa perbedaan penting diantara keduanya adalah jarak tembak efektif (M16: 360 m; M4:500 m). Dikatakan bahwa M4 lebih mudah digunakan dan lebih jitu.

Pentagon berencana membeli 100.000 pucuk M4 pada tahun 2008 untuk mengantikan M16. Demikian dinyatakan oleh seorang pejabat senior Colt yang memproduksi M4 dan M16 sebagai-mana dikutip oleh Defense News edidi 5 Maret 2007.

Dalam percobaan selanjutnya ternyata M4, se-perti pendahulunya, juga memerlukan perawatan yang teliti. Ken-datipun hal ter-sebut telah dila-kukan, M4 ma-sih cukup sering mengalami ke-macetan. Ini se-bagai akibat sis-tem saluran gas-nya yang kurang sempurna se-hingga sisa kar-bon dapat mem-buat senjata ter-sebut macet, Cacat atau ke-kurangan yang melekat pada M16 dan M4 membuat para pengambil keputusan di jajaran militer Amerika Serikat untuk melirik H&K 416 Carbine.

Dibandingkan dengan M16 dan M4, senapan buatan perusahaan Heckler & Koch GmbH, Jerman, itu memiliki beberapa keunggulan. H&K 416 merupakan produk hasil kerjasama tahun 2004 antara pihak perusahaan senjata Jerman dan Delta Force (pasukan elit Amerika Serikat).

Sosok H&K 416 berbeda dengan M4 atau M16 terutama pada bentuk larasnya, panjang kese-luruhan H&K 416:34,9 inci (dibandingkan dengan panjang M4; 33 inci), berat tanpa magasen 7,7 pon (5,9 pon), dan Jarak tembak efektif 400 meter (500 meter).

Persamaannya atau kemiripannya terletak pada kaliber 5,56 mm, panjang laras 14,5 inci, kecepatan tembak 700-900 butir per menit, dan sistem pilihan tembak: semi otomatis serta otomatis. Pada H&K 416 tersedia empat macam ukuren laras, yaitu 10, 4 inci, 14,5 inci, 16,5 inci, dan 20 inci. Dari data tersebut tampak bahwa ukuran H&K 416 lebih besar, lebih berat, dan (bisa) lebih panjang.

Dari segi harga, Defense News menyebutkan harga M4 $800 per pucuk. Ini merupakan harga senjata standar tanpa perlengkapan yang lain. Jika ditambah berbagai macam perlengkapan lain sesuai dengan keperluan penugasan di medan tempur, harga tersebut dapat mencapai $1.300 per pucuk. Di sisi lain, harga sepucuk H&K 416 berkisar antara $800 hingga $1.425 (bergan-tung kepada ak-sesori yang di-perlukan).

Kehandalan utama H&K 416 terletak pada sis-tem piston gas langkah-pendek. Sistem ini ber-beda dengan sis-tem tabung gas Colt yang digu-nakan pada M4. Dengan sistem piston gas langkah-pendek pada H&K 416, cacat pada sistem pembuangan karbon dapat dihi-langkan. Masalah pembuangan sisa karbon inilah yang sering mengakibatkan kemacetan pada M16 dan M4. Dengan sistem yang diterapkan pada H&K 416, senjata baru tersebut dapat diandalkan dalam berbagai medan pertempuran.

Kini H&K 416 digunakan oleh pasukan elite Amerika Serikat, di antaranya Delta Force. Pasukan biasa masih memakai M16 atau M4. Keistimewaan H&K 416 belum diakui sepe-nuhnya oleh pasukan yang selama bertahun-tahun telah menggunakan M16 di medan laga. Mereka masih tetap yakin akan keunggulan M16 yang legendaris itu. Keyakinan mereka mungkin bisa hilang jika mereka melihat bukti nyata kehebatan H&K 416 yang hingga kini belum teruji dalam rentang waktu yang lama di berbagai jenis medan perang Selengkapnya...

Minggu, 22 Maret 2009

Type 05


Type 05 JS (Jian She)
Caliber 5.8x21mm DAP92-5.8 9x19mm DAP92-9 (9mm Luger/Para)
Weight 2.2 kg empty 2.1 kg empty
Length 500 mm 450 mm
Barrel length n/a n/a
Rate of fire n/a n/a
Magazine capacity 50 rounds 30 rounds
Effective range 150-200 m 100-150 m Selengkapnya...

MP-5A2



MP-5A2 : MP-5A3
Caliber 9x19mm Parabellum (also .40S&W and 10mm Auto)
Weight, empty 2.54 kg : 2.88 kg
Length 680 mm : 490 / 660 mm
Barrel length 225 mm
Rate of fire 800 rounds per minute
Magazines 15 and 30 rounds Selengkapnya...

FMK-3 (Argentina)


FMK-3 (Argentina)

Caliber: 9x19mm Luger/Para
Weight: 3.40 kg empty
Lenght (stock closed/open): 523 / 693 mm
Barrel lenght: 290 mm
Rate of fire: 650 rounds per minute
Magazine capacity: 25, 32 and 40 rounds
Effective range: 100 meters

The FMK-3 submachine gun was developed by Fabricaciones Militares company of Argentina circa 1974 and is being manufactured by Small Arms factory of Domingo Matheu. It is used by Army and Police of Argentina, and also, in semi-automatic version is sold to civilians under the name of FMK-5.

FMK-3 is a blowback-operated, selective fire submachine gun. It uses telescoped bolt, that sleeves around the rear part of the barrel when closed. Double stak magazine is inserted into the pistol grip. Receiver and pistol grip is made from steel stampings, safety/fire selector switch is located at the left side of the weapon above the pistol grip. There also is an automated grip safety at the rear of the pistol grip. The sights are of flip-up type with "L"-shaped rear sight blade, marked for range of 50 and 100 meters. The retractable buttstock is made from steel wire.

It is said that FMK-3 is quite comfortable to use and accurate in full-auto, putting all hits into 125 mm (5 inches) groups when firing offhand at 50 meters (short bursts, obviously). Selengkapnya...

Sub-machine Gun 4 The Specials



The submachine gun is an automatic or selective-fired shoulder weapon that fires pistol-caliber ammunition. The concept of submachine gun dates back to World War One; the trench warfare of this war required effective and compact weapons for short-range fighting in trenches; additionally, a lightweight and maneuverable fully automatic weapon was desirable to complement light machine guns in both defensive and offensive scenarios, to cover last 200 meters of assault on enemy positions. The first weapon which can be considered to some extent as the world's first submachine gun was the Italian Villar-Perosa, which was a twin-barreled automatic weapon that fired 9mm Glisenti pistol ammunition from top-mounted box magazines. It was compact, but its primary tactical role was of short-range machine gun; therefore it was usually fired from some sort of mount, and fitted with machine-gun type spade grips instead of more conventional rifle-type stock.


German police officer fires Schmeisser MP.18,I submachine gun (circa 1920) The first true submachine gun was the Bergmann / Schmeisser MP.18,I, which saw some action during closing days of the Great war. This was a shoulder-fired weapon, that set the basic pattern for all following weapons of its class. The inter-war decades produced a significant number of submachine guns, but the tactical niche for these weapons was still unclear for many military experts. It was the Grand Chako war, the Spanish Civil war and Russo-Finnish Winter war of 1940 that proved the viability of submachine guns as general-issue weapons for fighting troops. Nevertheless, regardless of the large number of available models, by the start of World War Two in most armies submachine guns were relegated to secondary role. For example, the very technically advanced Wehrmacht (Hitler's army) issued MP-38 and MP-40 submachine guns to infantry troops in proportion of about one SMG per ten bolt action rifles. It was the Red (Soviet) army which issued PPSh-41 submachine guns as primary infantry weapons to entire companies and battalions. Despite the success of several new submachine guns, developed during the WW2, this war marked the start of decline of submachine guns as primary infantry weapons. The appearance of assault rifle, which, while being only slightly heavier than most SMGs, had much longer effective range, put an abrupt end to infantry use of submachine guns in Soviet army. On the other hand, the NATO countries still issued 9mm submachine guns to many non-infantry units and certain soldiers in infantry (i.e. scouts, machine gun and mortar crews etc) to complement relatively large and heavy semi-automatic or fully-automatic rifles firing powerful 7,62x51 NATO ammunition. The appearance (and wide distribution) of small-caliber assault rifles marked the final phase of history of submachine gun as general-issue infantry weapon. Selengkapnya...

AS Belajar Teritorial di Indonesia Setelah Gagal di Irak


Menjinakkan Irak dengan kekuatan tempur yang luar biasa, AS berpaling hendak memakai strategi penguasaan teritorial. Angkatan Bersenjata AS pun mengirim prajuritnya untuk belajar teritorial ke TNI.

KSAD Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo berkisah saat berkunjung ke AS beberapa waktu lalu, dirinya bertemu kepala staf angkatan darat AS. Pimpinan AD AS itu lalu menceritakan keadaan di Irak yang ternyata tidak bisa diselesaikan secara singkat dan memerlukan waktu yang lama.

“Saya bilang, di Indonesia seperti itu diselesaikan dengan pembinaan teritorial. Menurut saya, untuk perang ke depan tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan senjata tetapi, barang siapa yang memegang rakyat, itu yang menang dalam perang,” kata Agustadi di Jakarta,Selasa (22/4).

Setelah pembicaraan itu, lanjut Agustadi, AS lalu berencana mengirim perwira untuk menjalani sekolah dan atau kursus pembinaan teritorial di Indonesia. “Jadi kita tahu bersama kita memiliki pola pertahanan di mana sistem pembinaan teritorial sangat besar. Dia tidak minta tolong, tapi ingin menyekolahkan perwiranya ke Indonesia,” imbuh Agustadi.

Mantan Menhankam/Pangab Jenderal (Purn) Wiranto mengatakan sistem teritorial di Indonesia, tatkala sudah tidak lagi tersangkut dengan politik praktis, adalah langkah terbaik dalam rangka pertahanan negara. “Kalau beberapa elemen masyarakat kita mencurigainya, itu yang salah, mengapa bisa begitu? Padahal kekuatan kita ada di sana. Karena dengan wilayah kita yang sangat luas,” ujar Wiranto.

Karena itulah menurut Wiranto, wajar bila kemudian AS belajar strategi teritorial ke TNI apalagi mereka sudah mengalami kegagalan luar biasa di Irak yang masih terus bergejolak dan melawan.

“Apa mempelajari teritorial itu adalah dalam rangka upaya AS mendekati kita khususnya terkait negosiasi NAMRU?” tanya wartawan.

“Kalau soal NAMRU saya tak tahu. Tapi saya kira ketertarikan AS itu sangat riil sekali. Beberapa penugasan tentara kita yang tergabung dalam misi PBB, itu dapat acungan jempol tatkala pasukan kita selalu berhasil dalam penugasan. Pasukan kita menjadi yang terbaik ketika bisa masuk ke masyarakat dengan damai,” jawab Wiranto. Selengkapnya...

Sabtu, 14 Februari 2009

4RAR TAG-E SOTG (4th Royal Autralian Regiment, Tactical Assault Grup-East, Special Operation Group)



SASR Vietnam. I love the L1A1 with the XM148
A few more vietnam era pics. and a Afghanistan pic.
Members of 4 RAR conducting a night patrol in the Middle East. 

Special Air Service Regiment (SASR) troopers conduct casting exercises from a 5 Aviation Regiment Black Hawk helicopter as part of ongoing training for Exercise Mercury in the seas north of Australia.

  
Soldiers from 4th Battalion Royal Australian Regiment (4RAR) Commandos conduct an urban assault demonstration at the new Special Forces Training Centre Facility in Holsworthy.


Selengkapnya...